Andainya engkau jodohku yang tertulis di Lauhul Mahfudz Allah pasti akan menanamkan kasih dalam hatiku dan rasa sayang dihatimu karena itu janji Allah "Dan tidak ada satupun yang tersembunyi di langit dan di bumi melainkan (tercatat) dalam kitab yang jelas (Lauhul Mahfudz)"
(Q.s.An naml 27;75)

Kamis, 18 Agustus 2011

inilah lelaki idamanmu

Ada seorang akhwat yang mengatakan ingin mendapatkan suami yang punya
penghasilan yang mapan, gagah, bermata teduh, tegap, tampan, senyumnya
menawan, berhidung mancung dan… stop! Ukht, anti mau cari calon suami apa
mau audisi bintang sinetron? Seorang pendamping yang ideal tidak bisa
dinilai dari segi fisik atau materi saja, walau memang lelaki yang “ganteng”
mampu menyejukkan pandangan mata, namun apa artinya kalau mata sejuk namun
hati jadi biru lebam, walaupun suami yang kaya raya mampu membelikan segala
yang engkau inginkan, tapi mampukah dia membelikan surga buatmu?


 Jawabannya adalah “Tidak”! wahai saudariku, bukankah engkau menginginkan
 kebahagiaan yang tiada akhirnya, bukankah kasih sayang dan kelembutan yang
 selama ini menjadi impianmu, lelaki ideal memang susah dicari, namun bukan
 hanya “bentuk ideal” yang mampu membuatmu bahagia dan mengantarkanmu menuju
 rumah tangga yang sakinah, lelaki ideal memang sebuah harapan, namun kadang
 sebuah harapan yang terpenuhi tak mampu menghadirkan indahnya bahtera rumah
 tangga.



 Sosok ideal seperti gambaran di atas memang telah menjadi patokan dan syarat
 di sebagian besar akhwat (kalau mau jujur), selain alasan agar sejuk dilihat
 dan tidak membosankan pandangan, alasan lain adalah agar tidak memalukan di
 hadapan umahat yang lain kelak! Duhai kasihan saudaraku para ikhwan yang
 tidak masuk kriteria ini, dan juga penulis mungkin tidak bisa memenuhi
 syarat-syarat ini, namun sebuah realita dan kenyataan yang ada di lapangan
 tetap sebuah fakta.


 Kenyataan yang terjadi bahwa para ikhwan juga bukan pelanggan tempat-tempat
 fitness, seorang ikhwan pernah menyampaikan, “yaa akhi mau olah raga yang
 paling murah lari pagi dan jalan kaki banyak fitnah pandangan mata, kalau
 malam memang sepi tapi takut dikira maling atau teroris, atau malah kena
 paru-paru basah!” Ishbir ya akhi, tidak sampai sebegitunya juga kok, meski
 artikel ini penulis tujukan buat akhwat yang mau cari suami, buat ikhwan
 yang sedang mau cari belahan hidup juga bisa dipakai sebagai introspeksi
 apakah sudah memiliki kriteria berikut ini…


 PERTAMA : Dia adalah seorang laki-laki yang taat beragama, berdasarkan
 firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “...Sesungguhnya budak yang mukmin lebih
 baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu.” (Al Baqarah : 221)


 Diharapkan sekali menjadi syarat nomor wahid untuk calon suami idaman
 (selain sudah muslim tentunya) adalah seorang laki-laki yang taat dan
 memiliki rasa takut yang tinggi kepada Allah Ta’ala, karena seorang calon
 suami seperti ini telah memenuhi syarat menjadi calon pemimpin rumah tangga,
 dengan ilmu agama yang ia miliki dan bekal keimanan-nya, sangat diharapkan
 calon suami seperti ini mampu mendidik anak dan istrinya kelak menjadi
 seorang yang shalih dan shalihah, menjadi hamba-hamba Allah Ta’ala yang taat
 pula, sehingga keharmonisan dan tersusunnya suatu rumah tangga yang sakinah
 bisa (insya Allah) diwujudkan.


 KEDUA : Dia adalah orang yang hafal atau mengerti sebagian dari Al-Qur’an :
 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menikahkan seseorang dengan
 (mahar) beberapa ayat Al-Qur’an yang ia hafal. [HR. Al-Bukhari (5029), dan
 Muslim (1425)]


 Seorang calon suami yang banyak memiliki hafalan Al-Qur’an merupakan calon
 pasangan yang ideal bagi seorang wanita yang shalihah, seorang calon
 pemimpin rumah tangga yang ideal tentunya harus saggup mengajarkan Al-Qur’an
 kepada keluarganya kelak, menjaga hafalan dan bacaan Al-Qur’an anak dan
 istrinya, apalagi jika sang calon suami juga memahami tafsir ayat dari
 hafalan Al-Qur’annya, sehingga bisa menerapkan Al-Qur’an dalam kehidupan
 rumah tangga kesehariannya.


 KETIGA : Dia adalah seorang laki-laki yang mampu memberikan ba-ah (nafkah)
 dengan kedua macamnya, yaitu kemampuan untuk berjima’, dan kemampuan untuk
 memberikan pembiayaan nikah juga biaya hidup.


 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan motivasi kepada para pemuda
 untuk menikah ketika mereka mampu memenuhi ba-ah, dan beliau juga berkata
 kepada Fathimah binti Qais : “Adapun Mu’awiyah adalah seorang laki-laki yang
 fakir.” [HR. Muslim (1480), An-Nasa-i (3245), dan Abu Dawud (2284)]


 Walaupun kaya raya bukan merupakan syarat, namun tetap diharapkan seorang
 ikhwan memiliki pekerjaan yang mampu dia gunakan untuk biaya pernikahannya
 dan untuk menghidupi anak-istrinya, walaupun tiap tahun menjadi “kontraktor”
 (tukang kontrak rumah-red), sudah dianggap mampu untuk memulai kehidupan
 rumah tangga, selain mampu memberikan kebutuhan biologis pada istrinya
 (bukan laki-laki yang impoten), sangat diharapkan untuk sebuah rumah tangga
 tidak dimulai dengan kehidupan menumpang orang tua (Pondok Mertua Indah).


 KEEMPAT : Dia adalah seorang laki-laki yang lemah lembut kepada wanita :
 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang Abu Jahm :
 “Adapun Abu Jahm adalah seorang laki-laki yang tidak pernah meletakkan
 tongkat dari pundaknya (suka memukul), maka nikahilah Usamah.” [HR. Muslim
 (1480), An-Nasa-i (3245), dan Abu Dawud (2284)]


 Hendaklah ada pada diri seorang calon suami sifat lembut dan romantis,
 karena akan semakin menambah mekarnya bunga-bunga cinta dalam rumah tangga,
 sehingga seorang wanita bisa benar-benar merasakan ketentraman dalam hidup
 berumah tangga, seorang calon suami hendaknya seseorang yang mampu tampil
 bijak dan mampu menahan amarah ketika melihat suatu hal yang tidak
 mengenakkan hatinya pada istrinya. Seorang calon suami idaman adalah
 laki-laki yang mampu tampil sebagai pengayom dalam rumah tangganya, juga
 seorang laki-laki yang pandai menumbuhkan suasana tentram dalam rumah, tidak
 suka teriak-teriak dan tukang marah, seorang laki-laki yang santun tutur
 kata dan penuh kasing saying kepada istrinya kelak.


 KELIMA : Istrinya senang melihatnya, sehingga di antara keduanya tidak ada
 kerenggangan dan si wanita tidak ingkar ketika hidup bersamanya. Dalam hal
 ini memang seorang laki-laki mampu menjaga penampilan dan badannya,
 sebagaimana seorang ikhwan mengharapkan calon istri yang semampai, begitu
 juga seorang akhwat ingin mendapatkan seorang calon suami yang memiliki
 postur ideal (tidak mesti harus tampan seperti bintang sinetron), maksudnya,
 hendaknya seorang ikhwan tidak membiasakan diri punya perut yang gemuk
 sehingga tidak enak dipandang, kemudian hendaknya ikhwan menjaga bau
 tubuhnya agar selalu tampil menyenangkan saat di hadapan istri, potongan
 rambut juga jangan acak-acakan seenaknya, mengenakan pakaian taqwa dengan
 baik dan rapi, maka akan menampilkan sosok berwibawa dan sejuk dilihat.


 Perkara wajah (tampang) dalam hal ini relatif, tergantung dari pihak calon
 istri ketika nazhar (melihat calon istri / suami), namun kami nasihatkan
 kepada ukhti fillah agar tidak hanya melihat ketampanan fisik kemudian
 melupakan akhlak calon suami, dan ada sebuah tips kecil bagi akhwat yang
 kurang berkenan ketika nazhar “bahwa cinta bisa mudah tumbuh ketika calon
 suami memiliki akhlak yang mulia”


 KEENAM : Dia adalah seorang laki-laki yang tidak mandul. Hal ini karena
 adanya riwayat yang menjelaskan tentang keutamaan keturunan kecuali jika ada
 beberapa faktor pendukung untuk menikah dengannya.


 Buah pernikahan adalah dengan hadirnya anak-anak yang bisa menyejukkan
 pandangan dalam rumah tangga, sangat diharapkan akan muncul benih-benih yang
 shalih dan shalihah dalam sebuah pernikahan seorang muslim dengan muslimah,
 namun jika ada kondisi lain yang tidak memungkinkan menjadi pengecualian
 bagi seorang muslimah yang berbesar hati untuk menikah dengan seorang lelaki
 yang mandul namun memiliki akhlak yang mulia, namun hendaknya hal ini
 disampaikan pada saat proses khitbah agar diketahui kekurangan masing-masing
 pihak dan tidak ada unsur penipuan dalam pernikahan.


 KETUJUH : Berasal dari lingkungan yang mulia, Al-Bukhari dan Muslim telah
 meriwayatkan dari hadits Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah, bahwa Nabi
 shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia seperti barang tambang emas
 dan perak. Yang terbaik dari mereka pada masa jahiliyah adalah yang terbaik
 pula pada masa Islam apabila mereka berilmu.”


 Lingkungan kadang berpengaruh besar terhadap akhlak seseorang, maka pilihlah
 calon suami yang memiliki pergaulan yang syar’i, bukan laki-laki yang suka
 nongkrong di pinggir jalan atau laki-laki yang hura-hura, namun carilah seorang
 calon suami yang gemar
 menghadiri ta’lim-ta’lim yang mengajarkan Islam yang syar’i dan sunnah
 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga dari pergaulan yang mulia
 ini diharapkan mampu muncul sosok yang bersih dan jauh dari bisikan-bisian
 maksiyat.


Rasulullah bersabda:


 jgnlah kalian duduk-duduk di tepi-tepi jalan. mrk berkata "Ya
 Rasulullah, tempat-tempat duduk kami ditepi jalan." Beliau
 bersabda, "jk kalian memang hrs melakukannya, maka hendaklah
 mmberikan hak jalan itu." mrk bertanya, "apa hak jalan
 itu?". jwb beliau, "Memalingkan pandangan dari hal yg
 dilarang Allah, mnyingkirkan gangguan dan menjawb salam" HR.Muslim




 Demikianlah wahai ukhti fillah, termasuk beberapa kriteria seorang lelaki
 idaman, dan penulis telah banyak bertemu dengan ikhwan-ikhwan yang memenuhi
 semua criteria di atas, jadi bagi ukhti fillah yang sudah siap menikah tidak
 susah untuk mendapatkan calon pendamping idaman, banyak ikhwan yang
 berakhlak mulia siap untuk mendampingimu, (afwan penulis tidak membuka
 kontak jodoh), namun rumah tangga yang sakinah tidak bisa dibeli dengan
 harta yang berlimpah atau dengan wajah bak bintang film laga, bisa jadi
 mereka yang bercelana “cingkrang” walau tidak kebanjiran, atau mereka yang
 berjenggot tipis walau tidak berhidung mancung seperti orang arab (maklum
 ras asia), atau juga mereka yang berbaju gamis dan suka menundukkan
 pandangan saat berjalan di tempat umum (walau kadang sering tidak sengaja
 nabrak rambu-rambu jalan) adalah calon suami yang engkau cari…




 -wallahu'alam-


( ichi )
Share

2 komentar: