Petrol
(biasa disebut gasoline di Amerika Serikat dan Kanada; di Indonesia biasa
disebut bensin) adalah cairan campuran yang berasal dari minyak bumi dan
sebagian besar tersusun dari hidrokarbon serta digunakan sebagai bahan bakar
dalam mesin pembakaran dalam. Istilah gasoline banyak digunakan dalam industri
minyak, bahkan dalam perusahaan bukan Amerika. Kadangkala istilah mogas
(kependekan dari motor gasoline, digunakan mobil) digunakan untuk membedakannya
dengan avgas, gasoline yang digunakan oleh pesawat terbang ringan. Karena
merupakan campuran berbagai bahan, daya bakar bensin berbeda-beda menurut
komposisinya. Ukuran daya bakar ini dapat dilihat dari bilangan oktan setiap
campuran. Di Indonesia, bensin diperdagangkan dalam dua kelompok besar:
campuran standar, disebut premium, dan bensin super.
Oktan
adalah angka yang menunjukkan berapa besar tekanan maksimum yang bisa diberikan
di dalam mesin sebelum bensin terbakar secara spontan. Di dalam mesin, campuran
bensin dan udara (berbentuk gas) bisa terbakar sendiri secara spontan sebelum
terkena percikan api dari busi. Jadi, semakin tinggi angka oktannya, semakin
lama bensin itu terbakar spontan. Pembakaran spontan ini menimbulkan ketukan di
dalam mesin yang biasa disebut gejala ngelitik atau knocking. Pembakaran
spontan ini sebisa mungkin dihindari dengan angka oktan yang tinggi. Jika masih
menggunakan premium yang beroktan 88, maka mesin akan ngelitik atau knocking.
1.
PREMIUM
Premium adalah BBM jenis distilat berwarna kekuningan yang jernih. Premium merupakan BBM yang paling populer di Indonesia. Premium di Indonesia dipasarkan oleh Pertamina dengan harga relatif murah, karena memperoleh subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Premium merupakan BBM dengan oktan atau Research Octane Number (RON) terendah di antara BBM untuk kendaraan bermotor lainnya, yakni hanya 88.
Karakteristik Premium:
Premium adalah BBM jenis distilat berwarna kekuningan yang jernih. Premium merupakan BBM yang paling populer di Indonesia. Premium di Indonesia dipasarkan oleh Pertamina dengan harga relatif murah, karena memperoleh subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Premium merupakan BBM dengan oktan atau Research Octane Number (RON) terendah di antara BBM untuk kendaraan bermotor lainnya, yakni hanya 88.
Karakteristik Premium:
- Menggunakan tambahan pewarna dye
- Mempunyai Nilai Oktan 88
- Menghasilkan NOx dan Cox dalam jumlah banyak
Tips bagi pengguna Premium
- Jangan membeli bensin pada SPBU yang sedang mengisi ulang tangki bensin, karena kotoran dalam tangki penyimpanan akan terurai dan dapat langsung masuk ketangki kendaraan kita.
- Usahakan tangki kendaraan jangan sering-sering kosong, karena akan cepat sekali berkarat.
- Jangan sembarangan membeli bensin eceran, karena bisa jadi sudah dicampur dengan cairan yang lain.
- Belilah premium dipagi hari, kalau bisa sekitar jam 2 dini hari, saat premium belum memuai dan dalam keadaan yang paling dingin.
2.
PERTAMAX
Pertamax, seperti halnya Premium, adalah produk BBM dari pengolahan minyak bumi. Pertamax dihasilkan dengan penambahan zat aditif dalam proses pengolahannya di kilang minyak. Pertamax pertama kali diluncurkan pada tahun 1999 sebagai pengganti Premix 98 karena unsur MTBE yang berbahaya bagi lingkungan. Selain itu, Pertamax memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan Premium. Karakteristik Pertamax:
Pertamax, seperti halnya Premium, adalah produk BBM dari pengolahan minyak bumi. Pertamax dihasilkan dengan penambahan zat aditif dalam proses pengolahannya di kilang minyak. Pertamax pertama kali diluncurkan pada tahun 1999 sebagai pengganti Premix 98 karena unsur MTBE yang berbahaya bagi lingkungan. Selain itu, Pertamax memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan Premium. Karakteristik Pertamax:
- Ditujukan untuk kendaraan yang menggunakan bahan bakar beroktan tinggi dan tanpa timbal.
- Untuk kendaraan yang menggunakan electronic fuel injection dan catalyc converters.
- Mempunyai Nilai Oktan 92
- Bebas timbal
- Ethanol sebagai peningkat bilangan oktannya
- Menghasilkan NOx dan Cox dalam jumlah yang sangat sedikit dibanding BBM lain.
Perbedaan
pertamax dengan premium bagi performa mesin motor:
Motor
dengan spesifikasi bahan bakar Pertamax jika menggunakan Premium » performa
mesin + umur pakai mesin menurun. Motor dengan spesifikasi bahan bakar Premium
jika menggunakan Pertamax » tidak berpengaruh besar pada performa motor.
Bila
kedua jenis bahan bakar tersebut dipakai tidak sesuai dengan spesifikasi bahan
bakar yang dibutuhkan mesin maka performa menjadi menurun. Hal itu berpengaruh
terhadap emisi gas buang dihasilkan yang tentunya juga berpengaruh terhadap
lingkungan. Penggunaan Pertamax lebih irit meski beban yang diangkut motor
berat. Sebab tidak ada detonasi dan menghasilkan tenaga yang besar. Beda dengan
pemakaian Premium. Gas harus dipelintir dahulu sehingga lebih boros.
Perbedaan
lainnya ada pada bau Pertamax yang lebih tajam lantaran menggunakan trik
aromatic. Enggak hanya itu Pertamax juga lebih cepat menguap dibanding premium.
Jika disulut api Pertamax akan lebih cepat menyambar ketimbang premium. Tapi
jika dalam ruang bakar, Premium justru lebih mudah meledak (autoignition)
dibanding Pertamax.
Sebenarnya
penggunaan jenis bahan bakar apa pun harus disesuaikan dengan kebutuhan mesin
agar didapat hasil yang optimal, efektif dan efesien
Mesin motor memerlukan jenis bensin yang
sesuai dengan desain mesin itu sendiri agar dapat bekerja dengan baik dan
menghasilkan kinerja yang optimal. Jenis bensin tersebut biasanya diwakili
dengan angka / nilai oktan (RON), misalnya Premium ber-oktan 88, Pertamax
ber-oktan 92 dan Pertamax Plus ber-oktan 95.
Tujuan mesin dibuat dengan perbandingan
kompresi tinggi adalah untuk meningkatkan efisiensi (irit bahan bakar) dan
menurunkan kadar emisi. Semakin tinggi angka oktan, maka harga per liternya pun
umumnya lebih tinggi. Namun belum tentu bahwa jika mengisi bensin ber-oktan
tinggi pada mesin motor kita, kemudian akan menghasilkan tenaga yang lebih
tinggi juga.
Dianjurkan mengisi bensin sesuai nilai rasio kompresi (kecuali ada modifikasi lain). Semakin TINGGI nilai oktan, maka bensin semakin lambat terbakar (dikarenakan titik bakarnya lebih tinggi). Semakin TINGGI nilai oktan, maka bensin lebih sulit menguap (penguapan rendah). Bensin yang gagal terbakar (akibat oktan terlalu tinggi), bisa menyebabkan penumpukan kerak pada ruang bakar atau pada klep.
Dianjurkan mengisi bensin sesuai nilai rasio kompresi (kecuali ada modifikasi lain). Semakin TINGGI nilai oktan, maka bensin semakin lambat terbakar (dikarenakan titik bakarnya lebih tinggi). Semakin TINGGI nilai oktan, maka bensin lebih sulit menguap (penguapan rendah). Bensin yang gagal terbakar (akibat oktan terlalu tinggi), bisa menyebabkan penumpukan kerak pada ruang bakar atau pada klep.
Berikut daftar bahan bakar motor dan
mobil sesuai rasio kompresi yang saya ambil dari majalah MotoDream :
YAMAHA
Vega-R (9.3:1) Pertamax
YAMAHA
Vega-R (9.3:1) Pertamax
Vega-ZR (9.3:1) Pertamax
Mio (8.8:1) Premium
Jupiter (9.0:1) Premium
F1ZR (7.1:1) Premium
RX-KING (6.9:1) Premium
YT 115 (7.2:1) Premium
RZR (7:01) Premium
Nouvo (8.8:1) Premium
Crypton (9.0 : 1) Premium
Yamaha Alfa (7.2 : 1) Premium
Yamaha RXZ (7.0 : 1) Premium
Jupiter-Z (9.3:1) Pertamax
Jupiter MX-135LC (10.9:1) Pertamax Plus
Scorpio-Z (9.5:1) Pertamax
VIXION (10.4:1) Pertamax/pertamax plus
Majesty 125 (11:01) Pertamax Plus
Scorpio (9.5:1) Pertamax
SUZUKI
Satria FU (10.2:1) Pertamax/pertamax plus
Satria FU (10.2:1) Pertamax/pertamax plus
Shogun New FL125 Series (9.6 : 1)
Pertamax
Shogun FD125 X (9,5 : 1) Pertamax
Thunder 125 (9.2 : 1) Premium/Pertamax
Spin 125 (9.6:1) Pertamax
SkyWave 125 (9.6 :1) Pertamax
KAWASAKI
Kawasaki Blitz R 53 mm x 50.6mm 111 cc 9.3 : 1 (Pertamax)
Kawasaki Blitz R 53 mm x 50.6mm 111 cc 9.3 : 1 (Pertamax)
Kawasaki Athlete 56 mm x 50.6mm 124.6 cc
9.8 : 1 (Pertamax)
Kawasaki Ninja 250 62 mm x 41.2mm 2x 250
cc 11.5 : 1 (Pertamax Plus)
Kawasaki KLX 250 72 mm x 61,2mm 249cc 11
: 1 (Pertamax Plus)
Kawasaki Ninja RR 150 7.2 : 1 (Premium)
Kawasaki Kaze 9.3 : 1 (Pertamax)
HONDA
Honda GL 100 52 x 49.5mm 105.1 cc 9.2 : 1 (Pertamax)
Honda GL 100 52 x 49.5mm 105.1 cc 9.2 : 1 (Pertamax)
Honda GL Max 56.5 x 49.5mm 124.1 cc 9.2
: 1 (Pertamax)
Honda GL Pro 61.0 x 49.5mm 144.7cc 9.2 :
1 (Pertamax)
Honda Supra 50.0 x 49.5mm 97.1 cc 8.8 :
1 (Premium)
Honda Tiger 63.5 x 62.2 mm 196.9cc 9.0 :
1 (Premium)
Honda Megapro 63,5 x 49,5 mm 156.7cc 9.0
: 1 (Premium)
Honda CS-1 58 x 47,2 mm 124.7 cc 10.7 :
1 (Pertamax Plus)
Honda Supra PGM FI 52,4 x 57,9 mm
124.8cc 9.0 : 1 (Premium)
Honda Blade 50 x 55,6 mm 109.1 cc 9.0 :
1 (Premium)
Honda Vario 10, 7:1 (Pertamax Plus)
Honda CBR 150 R 11:1 ( Pertamax Plus)
Honda Beat 125 9.2 : 1 (Pertamax)
Honda Scoopy 108 cc 9.2 : 1 (Pertamax)
Honda Absolute Revo 110 cc 9 : 1
(Premium)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar