Andainya engkau jodohku yang tertulis di Lauhul Mahfudz Allah pasti akan menanamkan kasih dalam hatiku dan rasa sayang dihatimu karena itu janji Allah "Dan tidak ada satupun yang tersembunyi di langit dan di bumi melainkan (tercatat) dalam kitab yang jelas (Lauhul Mahfudz)"
(Q.s.An naml 27;75)

Senin, 21 November 2011

Makalah Filsafat Ilmu

LANDASAN PENELAAHAN ILMU
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu









Disusun Oleh  :
  1.  Aena Aenaul Magfiroh FI ( 10.0405.0012 )
  2.    Hanik Puji Utami         ( 10.0405.0051 )




PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2011



A.    Pendahuluan

Kegiatan keilmuan dan pengembangan ilmu memerlukan dua pertimbangan. Objektivitas yang tertuju kepada kebenaran merupakan landasan tetap yang menjadi pola dasarnya. Nilai-nilai hidup kemanusiaan merupakan pertimbangan pada tahap pra-ilmu dan pasca-ilmu. Nilai-nilai kemanusiaan merupakan dasar, latar belakang dan tujuan dari kegiatan keilmuan.

B.     Hubungan Ilmu dengan Nilai-nilai Hidup

Pertimbangan nilai-nilai sangat berpengaruh pada penentuan tujuan ilmu pengetahuan dan kegiatan ilmiah pada umumnya. Berdasarkan pertimbangan nilai yang diperhatikan, maka pandangan para ilmuan dapat dibedakan menjadi 2 golongan, yaitu :

1. Para ilmuan yang hanya menggunakan satu pertimbangan nilai, yaitu nilai kebenaran dan dengan mengesampingkan pertimbangan-pertimbangan nila-nilai metafisik yang lain, yaitu nilai etik, kesusilaan dan kegunaannya akan sampai pada prinsip, bahwa ilmu pengetahuan harus bebas nilai. The Liang Gie menunjukkan beberapa pandangan ilmuan yang berprinsip bahwa ilmu pengetahuan harus bebas nilai, yaitu ( The Liang Gie, 1984 ) :

a.  Jacob Bronowski yang berpendapat         :
Tujuan pokok ilmu adalah mencari sesuatu yang benar tentang dunia. Aktifitas ilmu diarahkan untuk melihat kebenaran dan hal ini dinilai dengan ukuran pembenaran fakta-fakta.



b.  Victor Reisskop yang berpendapat           :
Tujuan pokok ilmu bukan pada penerapan. Tujuan ilmu ialah mencapai pemahaman-pemahaman terhadap sebab dan kaidah-kaidah tentang proses-proses ilmiah.

c.  Carl G. Hempel dan Paul Oppenheim yang berpendapat :
Menjelaskann fenomena dalam dunia pengalaman, menjawab pertanyaan ‘mengapa?’ daripada semata-mata pertanyaan ‘apa?’ merupakan salah satu dari tujuan-tujuan utama semua penyelidikan rasional, dan khususnya penelitian ilmiah dalam aneka cabangnya berusaha melampaui sekedar hanya suatu penulisan mengenai pokok soalnya dengan menyajikan suatu penjelasan mengenai fenomena yang diselidiki.

d.  Maurice Richter yang berpendapat           :
Tujuan ilmu sebagaimana biasanya diakui dewasa ini meliputi perolehan pengetahuan yang digeneralisasi, disistematisasi mengenai dunia alamiah, pengetahuan membantu manusia untuk memahami alam, meramal kejadian-kejadian alamiah dan mengendalikan kekuatan-kekuatan alamiah.

2. Para ilmuan yang memandang sangat perlu dimasukannya pertimbangan nilai-nilai etik, kesusilaan dan kegunaan untuk melengkapi pertimbangan nilai kebenaran, yang akhirnya sampai pada prinsip, bahwa ilmu pengetahuan harus taut ( gayut ) nilai. Beberapa pandangan yang berprinsip, bahwa ilmu pengetahuan harus taut nilai, yaitu           :

a) Francis Bacon berpendapat bahwa ilmu pengetahuan adalah   kekuasaan.
b) Daoed Yoesoef berpendapat bahwa ilmu pengetahuan memang merupakan suatu kebenaran tersendiri,

c) Soeroso H. Prawirohardjo menunjukkan beberapa  pandangan :

1) Myrdal berpendapat bahwa ilmu ekonomi telah menjadi terlalu matematik, steril dan tidak realistik.
2) Bacan berpendapat bahwa ilmu-ilmu sosial harus mempunyai komitmen pada usaha untuk membangun dunia dan merumuskan metode-metode yang cocok untuk menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat yang mendesak ( Soeroso H. Prawirohardjo, 1986 )

d)     CA van Peursen mengemukakan pandangan, bahwa dalam meninjau perkembangan ilmu pengetahuan secara menyeluruh tidak lepas dari tiga pembahasan yaitu teori pengetahuan, teknik dan etik. Lebih lanjut, ketiga persoalan ini harus dibahas secara bersama, karena teori pengetahuan melahirkan teknik, dan teknik bersentuhan langsung dengan pertimbangan nilai etik. Bersama dengan itu Van Peursen juga mengajukan perndapatnya, bahwa pengetahuan lebih berkuasa daripada teknik, dan teknik lebih berkuasa daripada etik.
Pengembangan ilmu pengetahuan ternyata memerlukan dua pertimbangan yaitu pertimbangan dari segi ilmu yang statik dan segi ilmu dinamik. Soejono Soenargono berpendapat, bahwa segi statik ilmu adalah ciri system yang tercermin dalam metode ilmiah, sedangkan segi dinamikanya adalah semacam pedoman, asas-asas yang perlu diperhatikan oleh para ilmuan dalam kegiatan ilmiahnya. (Soejono Soenargono, 1983 ).
Jujun Suriasumatri berpendapat, bahwa semua pengetahuan apakah itu ilmu, seni, atau pengetahuan apa saja pada dasarnya memiliki 3 landasan yaitu  :

a. Ontologi membahas tentang apa yang diinginkan diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. Dasar Ontologi dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi objek penelaahan ilmu.

b. Epiterminologi membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, Epiterminologi adalah suatu teori pengetahuan.

c. Dasar aksiologis ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya. Sebenarnya ilmu bersifat netral, tidak mengenal sifat baik dan buruk, manusialah yang menjadi penentu, dengan kata lain netralisasi ilmu hanya terletak pada dasar epistemologisnya saja.

Ilmu mempelajari kenyataan sebagaimana adanya dan terbatas pada lingkup pengalaman manusia. Berbagai pendapat yang berisi penjelasan mengenai hal ini dikemukakan oleh The Liang Gie  :

                             
1) Robert Lindsay dalam The Role of Science in Civilization, bahwa Science is a method for the description, creation, and understanding of human experience”,
( ilmu adalah suatu metode untuk penggambaran, penciptaan, dan pemahaman terhadap pengalaman manusia).

2)  Bliss lebih menekankan bahwa ilmu tidak lepas dari data-data empiric, seperti diungkapkan dalam The Organization Knowledge :

“Science is verified and organized knowledge, rationality and methodically proceeding from empirical and experimental data, simple concepts, and perceptual relation to generalization, theories, laws …. “
( ilmu adalah pengetahuan yang teratur dan teruji, terproses secara metodik dan rasional dari data eksperimental dan empirik, konsep – konsep sederhana, dan hubungan perseptual menjadi generalisasi-generalisasi, teori-teori, kaidah-kaidah ….. ) ( The Liang Gie, 1984 ).


Ilmu pengetahuan merupakan usaha manusia untuk memahami kenyataan sejauh dapat dijangkau oleh daya pemikiran manusia berdasar pengalaman manusia secara empirik. Sedangkan ilmu berdasarkan landasan ontologik berarti mendasarkan diri pada kenyataan sebagaimana adanya dapat membantu dalam menjelaskan, meramalkan dan mengontrol gejala yang ada untuk menuju ciri-ciri substansial dari alam ( objek ilmu pengetahuan )

Jeuken memberikan suatu pengertian ontologi ilmu sebagai berikut     :

On the level of science there is a close contact with the observations and experiment. Scientists try to enunciate a more general law of deeper insight in to them. Such a law is found by way of induction, which process is typical for the level. The result is not a law which only would indicate what is most occurring in nature, but a law indeed expresses an essential feature  of nature as it appears” ( Jeuken, 1958,hal 140 )

( Pada level ilmu ada suatu hubungan erat dengan observasi dan eksperimen. Para ilmuan mencoba menyatakan suatu hukum yang lebih umum tentang fenomena agar supaya mendapatkan suatu pengertian yang lebih dalam tentang fenomena tersebut. Hukum yang demikian itu diperoleh melalui induksi, yang prosesnya khas bagi level ini. Hasilnya bukan suatu hukum yang hanya menunjuk apa yang betul-betul terjadi dalam alam, tetapi suatu hukum yang sungguh-sungguh mengungkapkan ciri esensial dari alam sebagaimana alam tersebut tampil ).

Jadi ontologi ilmu adalah ciri-ciri yang esensial dari objek ilmu yang berlaku umum, artinya dapat berlaku juga bagi cabang-cabang ilmu yang lain.

Ilmu berdasarkan beberapa asumsi dasar untuk mendapatkan pengetahuan tentang fenomena yang menampak. Asumsi dasar ialah anggapan yang merupakan dasar dan titik tolak bagi kegiatan setiap cabang ilmu pengetahuan. Asumsi dasar ini menurut Endang Saifudin ada dua macam sumbernya       :

Pertama, mengambil dari postulat, yaitu kebenaran-kebenaran apriori, yaitu  dalil yang dianggap benar walaupun kebenarnnya tidak dibuktikan, kebenarannya sudah diterima sebelumnya secara mutlak. Kedua, mengambil dari teori sarjana/ahli yang lain terdahulu, yang kebenarannya tidak disangsikan lagi oleh masyarakat, terutama oleh si penyidik itu sendiri”. ( Endang Saifuddin Anshari, 1987 ).

Mengenai asumsi dasar dalam keilmuan, Harsojo menyatakan tentang macamnya dalam karangan “Apakah Ilmu itu dan Ilmu Gabungan tentang Tingkah Laku Manusia” meliputi :

1)     Dunia itu ada, dan kita dapat mengetahui bahwa dunia itu benar ada.

2)       Dunia empiris itu dapat diketahui oleh manusia melalui pancaindra.

3)     Fenomena-fenomena yang terdapat di dunia ini berhubungan satu sama lain secara kausal.



A.    Kesimpulan



Pandangan para ilmuan tentang pentingnya pertimbangan nilai memang dapat dibedakan menjadi 2 kelompok, namun keduanya tidak saling bertentangan. Pertimbangan nilai etik dan kemanfaatannya tidak dimaksudkan untuk mengubah ciri-ciri metode ilmiah, melainkan untuk menjamin kepentingan masyarakat.

Landasan ontologis dari ilmu pengetahuan adalah analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan. Objek materi ilmu pengetahuan adalah hal-hal atau benda-benda empiris.

Landasan episternologis dari ilmu pengetahuan adalah analisis tentang proses tersusunnya ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan disusun melalui proses yang disebut metode ilmiah ( keilmuan ).

Landasan aksiologis dari ilmu pengetahuan adalah analisis tentang penerapan hasil-hasil temuan ilmu pengetahuan. Penerapan ilmu pengetahuan dimaksudkan untuk memudahkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup manusia.





Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar